Training Marketing HandalTraining MotivasiTraining OutboundJual Kayu Khusus FirewalkTraining Entrepreneur

Kamis, 18 Desember 2014

JSS : Job Seeking Strategies.

Event :  CARA MUDAH DAPAT KERJA SEBELUM WISUDA


Seminar ini akan membahas alasan kuat mengapa kita harus sudah bekerja sebelum wisuda, bagaimana caranya, dan beberapa hal sepele yang banyak mahasiswa / calon wisudawan tidak mengetahuinya, atau bisa dikatakan hanya beberapa orang saja yang tahu dan tetap merahasiakannya untuk kelompok mereka sendiri


career center 300x85 Job Seeking Strategies


Tempat :

Rumah Albi, Alfamart Jl. Achmad Dahlan (Sebelah RS Telogorejo, Dekat Simpang Lima ) Semarang


Tiket / HTM :


Gratis dengan Bukti Pembelian ( Beli Apa saja Terserah ) di Alfamart Telogorejo Senilai Rp.25.000,-


info Lanjut :


SMS 085640262068 (bayu)


 


klik blog kami :


www.bfinstitute.wordpress.com


www.bfinstitute.blogspot.com



JSS : Job Seeking Strategies.

Jumat, 21 November 2014

Kisah Inspirasi

KISAH ULAR DAN GERGAJI

————————

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di sore hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan dan tidak merapikannya. Nah ketika ular itu masuk ke sana, secara kebetulan ia merayap di atas gergaji.


Tajamnya mata gergaji menyebabkan perut ular terluka. Ular beranggapan gergaji itu telah menyerangnya. Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali. Serangan yang bertubi-tubi menyebabkan luka parah di bagian mulutnya.


Marah dan putus asa, ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya untuk mengalahkan musuhnya. Lalu ia  membelit kuat-kuat gergaji itu. Belitan itu menyebabkan tubuhnya terluka amat parah, dan menyebabkan  ia  binasa..


Di pagi hari si tukang kayu menemukan bangkai ular di sebelah gergaji kesayangannya.


Moral cerita ini: Kadangkala di saat marah, kita ingin melukai orang lain. Setelah semua berlalu, kita baru menyadari bahwa yang sebenarnya terluka adalah diri kita sendiri.


Banyaknya perkataan yang terucap dan tindakan yang dilakukan saat amarah menguasai, membuat kita melukai diri sendiri sebanyak itu pula.


”Orang yang tak berpengalaman mendapat kebodohan, tetapi orang yang bijak bermahkotakan pengetahuan.”


Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.


Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.


Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.


Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.


Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.


Semua itu haruslah berasal dari hati kita.


ditulis oleh Dutria Bayu, Langsung dari meja kerjanya



Kisah Inspirasi

Kisah Inspirasi

KISAH ULAR DAN GERGAJI

————————

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di sore hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan dan tidak merapikannya. Nah ketika ular itu masuk ke sana, secara kebetulan ia merayap di atas gergaji.


Tajamnya mata gergaji menyebabkan perut ular terluka. Ular beranggapan gergaji itu telah menyerangnya. Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali. Serangan yang bertubi-tubi menyebabkan luka parah di bagian mulutnya.


Marah dan putus asa, ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya untuk mengalahkan musuhnya. Lalu ia  membelit kuat-kuat gergaji itu. Belitan itu menyebabkan tubuhnya terluka amat parah, dan menyebabkan  ia  binasa..


Di pagi hari si tukang kayu menemukan bangkai ular di sebelah gergaji kesayangannya.


Moral cerita ini: Kadangkala di saat marah, kita ingin melukai orang lain. Setelah semua berlalu, kita baru menyadari bahwa yang sebenarnya terluka adalah diri kita sendiri.


Banyaknya perkataan yang terucap dan tindakan yang dilakukan saat amarah menguasai, membuat kita melukai diri sendiri sebanyak itu pula.


”Orang yang tak berpengalaman mendapat kebodohan, tetapi orang yang bijak bermahkotakan pengetahuan.”


Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.


Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.


Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.


Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.


Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.


Semua itu haruslah berasal dari hati kita.


ditulis oleh Dutria Bayu, Langsung dari meja kerjanya



Kisah Inspirasi

Selasa, 18 November 2014

Disiplin Adalah Pilihan

wpid november 17 2014 113507 pm wit


Disiplin adalah pilihan. Kita harus memilih melakukan sesuatu yang mungkin tidak kita sukai, tapi harus kita lakukan. ATAU kita memilih apa yang kita sukai saja, dan menjauhkan kita dari tujuan semula.



Disiplin Adalah Pilihan

Gurunya Manusia

wpid november 13 2014 123706 pm wit3


GURUNYA MANUSIA : Menjadikan pelajaran mudah dimengerti


Kebanyakan para siswa sepakat bahwa pelajaran matematika adalah salah satu pelajaran yang paling tidak disukai di kalangan para siswa atau murid lantaran pelajaran ini susah dimengerti. Berdasar kajian yang pernah dilakukan, menempatkan matematika di posisi teratas pelajaran yang tidak disukai para anak anak sekolah, disusul oleh bahasa inggris. Benarkah demikian?


Berkaitan dengan belajar dan mengajar, kita berbicara tentang pola komunikasi yang 2 arah, dimana sang guru yang mengajar atau memberikan ilmu, sedangkan di sisi lain sang murid menerimanya. Dan akan terjadi sebuah proses yang dinamakan “belajar” disaat apa yang diberikan guru telah dan sudah dapat diterima oleh siswa melalui proses berpikir di otaknya, lain halnya jika apa yang diberikan guru “hanya” didengar, hanya dilihat dan atau hanya dirasakan saja tanpa ada proses yang melibatkan memory jangka panjang, tentu proses ini tidak membuahkan ilmu baru bagi sang murid. Mengapa bisa terjadi seperti ini?  Berikut beberapa penjelasannya.


1. Murid Tidak Merasa Nyaman


Dimungkinkan dalam proses pembelajarannya siswa belum atau tidak merasa nyaman. Pada kondisi ini, otak siswa bagian belakang bawah, yang biasa dikenal dengan otak reptile sedang aktif sehingga otak hanya berfokus pada “bagaimana cara agar nyaman? “. Dan pada kondisi ini tentunya bagian otak berpikir yang biasa disebut neurocortec tidak dapat berfungai baik, dan mengakibatkan setiap informasi yang masuk, hanya sepintas lalu saja, karena otak berfokus pada bagaimana menjadi nyaman. Solusinya : pastikan sebelum proses belajar mengajar dimulai, para siswa atau murid merasa nyaman dan senang, jaga rasa nyaman dan senang tersebut hingga proses belajar selesai. Caranya : penggunaan latarbelakang musik yang nyaman, seperti musik instrumental, music klasik dsb. Penerapan sesi ice breaking sebelum pelajaran dimulai, seperti game game ringan, tebaktebakan, brain gym, teka teki berhadiah, dsb.


2. Gaya Mengajar Guru Tidak Sama Dengan Gaya Belajar Murid.


Dimungkinkan kesulitas belajar terjadi dikarenakan gaya mengajar guru tidak sama dengan gaya belajar murid. Hal ini dapat terjadi jika sang guru belum memahami gaya belajar muridnya yang berbeda beda, sang guru hanya mengajar sesuai dengan cara belajarnya sendiri untuk dipakai mengajarkan pelajaran kepada para muridnya. Seperti contoh, guru yang suka membaca, akan mengajar siswa dengan kegiatan berbasis membaca, karena baginya jika siswa pandai membaca pasti pintar dan yang malas membaca pasti tidak pintar. Contoh lain : saat sang guru suka belajar dengan latihan soal soal, cenderung akan mengajar muridnya dengan soal soal yang harus dikerjakan dalam jumlah banyak, dan dinilai, yang sering kali menjawab benar berarti pintar dan yang sering salah berarti tidak pintar.

Kedua contoh mengajar di atas menunjukkan bahwa sang guru memaksakan gaya belajarnya untuk diterapkan sebagai gaya belajar muridnya. Padahal seperti kita ketahui bahwa masing masing individu mempunyai gaya belajar yang berbeda beda, beberapa menyukai membaca teks saat belajar, beberapa menyukai soal dan studi kasus, beberapa lagi menyukai praktek langsung, ada juga yang belajarnya lebih suka melalui cerita atau dongeng, ada juga yang melalui alunan musik dan lagu, dan adapula yang dengan gambar, dan masih banyak lagi. Hal ini sesuai dengan pola kecerdasan dominan masing masing murid sebagai individu. Merujuk pernyataan Howard Gardner, pakar kecerdasan jamak, bahwa setiap anak terlahir cerdas dan akan menjadi cerdas sebagaimana lingkungannya membesarkannya. Sehingga masing masing anak mempunyai kecerdasannya sendiri sendiri. Ada yang cerdas membaca, ada yang cerdas berhitung, ada yang cerdas menyanyi, ada yang cerdas mengambar dsb. Solusinya : guru


Harus menjadi pembelajar, mengerti gaya belajar masing masing siswanya, dan mengajarnya disesuaikan dengan gaya belajar tersebut


Kedua contoh diatas membawa kita pada proses pembelajaran yang sering dikenal dengan “Labeling”, dimana para murid dengan mudah diberi label pintar dan bodoh / tidak pintar. Saat murid pandai baca, Pintar, yang tidak pandai baca, bodoh. Jika anak sering benar menjawab soal matematika, pintar, jika sering salah, bodoh. Dan masih banyak lagi labeling labeling lain yang seharusnya tidak terjadi di proses pembelajaran ini.


Everychild is spesial, everychild is genius.


Ditulis oleh


dutria bayu adi

Dutriabayu@gmail.com


Www.bfinstitute.wordpress.com

Www.bfinstitute.blogspot.com



Gurunya Manusia

Gurunya Manusia

wpid november 13 2014 123706 pm wit2


GURUNYA MANUSIA : Menjadikan pelajaran mudah dimengerti


Kebanyakan para siswa sepakat bahwa pelajaran matematika adalah salah satu pelajaran yang paling tidak disukai di kalangan para siswa atau murid lantaran pelajaran ini susah dimengerti. Berdasar kajian yang pernah dilakukan, menempatkan matematika di posisi teratas pelajaran yang tidak disukai para anak anak sekolah, disusul oleh bahasa inggris. Benarkah demikian?


Berkaitan dengan belajar dan mengajar, kita berbicara tentang pola komunikasi yang 2 arah, dimana sang guru yang mengajar atau memberikan ilmu, sedangkan di sisi lain sang murid menerimanya. Dan akan terjadi sebuah proses yang dinamakan “belajar” disaat apa yang diberikan guru telah dan sudah dapat diterima oleh siswa melalui proses berpikir di otaknya, lain halnya jika apa yang diberikan guru “hanya” didengar, hanya dilihat dan atau hanya dirasakan saja tanpa ada proses yang melibatkan memory jangka panjang, tentu proses ini tidak membuahkan ilmu baru bagi sang murid. Mengapa bisa terjadi seperti ini?  Berikut beberapa penjelasannya.


1. Murid Tidak Merasa Nyaman


Dimungkinkan dalam proses pembelajarannya siswa belum atau tidak merasa nyaman. Pada kondisi ini, otak siswa bagian belakang bawah, yang biasa dikenal dengan otak reptile sedang aktif sehingga otak hanya berfokus pada “bagaimana cara agar nyaman? “. Dan pada kondisi ini tentunya bagian otak berpikir yang biasa disebut neurocortec tidak dapat berfungai baik, dan mengakibatkan setiap informasi yang masuk, hanya sepintas lalu saja, karena otak berfokus pada bagaimana menjadi nyaman. Solusinya : pastikan sebelum proses belajar mengajar dimulai, para siswa atau murid merasa nyaman dan senang, jaga rasa nyaman dan senang tersebut hingga proses belajar selesai. Caranya : penggunaan latarbelakang musik yang nyaman, seperti musik instrumental, music klasik dsb. Penerapan sesi ice breaking sebelum pelajaran dimulai, seperti game game ringan, tebaktebakan, brain gym, teka teki berhadiah, dsb.


2. Gaya Mengajar Guru Tidak Sama Dengan Gaya Belajar Murid.


Dimungkinkan kesulitas belajar terjadi dikarenakan gaya mengajar guru tidak sama dengan gaya belajar murid. Hal ini dapat terjadi jika sang guru belum memahami gaya belajar muridnya yang berbeda beda, sang guru hanya mengajar sesuai dengan cara belajarnya sendiri untuk dipakai mengajarkan pelajaran kepada para muridnya. Seperti contoh, guru yang suka membaca, akan mengajar siswa dengan kegiatan berbasis membaca, karena baginya jika siswa pandai membaca pasti pintar dan yang malas membaca pasti tidak pintar. Contoh lain : saat sang guru suka belajar dengan latihan soal soal, cenderung akan mengajar muridnya dengan soal soal yang harus dikerjakan dalam jumlah banyak, dan dinilai, yang sering kali menjawab benar berarti pintar dan yang sering salah berarti tidak pintar.

Kedua contoh mengajar di atas menunjukkan bahwa sang guru memaksakan gaya belajarnya untuk diterapkan sebagai gaya belajar muridnya. Padahal seperti kita ketahui bahwa masing masing individu mempunyai gaya belajar yang berbeda beda, beberapa menyukai membaca teks saat belajar, beberapa menyukai soal dan studi kasus, beberapa lagi menyukai praktek langsung, ada juga yang belajarnya lebih suka melalui cerita atau dongeng, ada juga yang melalui alunan musik dan lagu, dan adapula yang dengan gambar, dan masih banyak lagi. Hal ini sesuai dengan pola kecerdasan dominan masing masing murid sebagai individu. Merujuk pernyataan Howard Gardner, pakar kecerdasan jamak, bahwa setiap anak terlahir cerdas dan akan menjadi cerdas sebagaimana lingkungannya membesarkannya. Sehingga masing masing anak mempunyai kecerdasannya sendiri sendiri. Ada yang cerdas membaca, ada yang cerdas berhitung, ada yang cerdas menyanyi, ada yang cerdas mengambar dsb. Solusinya : guru


Harus menjadi pembelajar, mengerti gaya belajar masing masing siswanya, dan mengajarnya disesuaikan dengan gaya belajar tersebut


Kedua contoh diatas membawa kita pada proses pembelajaran yang sering dikenal dengan “Labeling”, dimana para murid dengan mudah diberi label pintar dan bodoh / tidak pintar. Saat murid pandai baca, Pintar, yang tidak pandai baca, bodoh. Jika anak sering benar menjawab soal matematika, pintar, jika sering salah, bodoh. Dan masih banyak lagi labeling labeling lain yang seharusnya tidak terjadi di proses pembelajaran ini.


Everychild is spesial, everychild is genius.


Ditulis oleh


dutria bayu adi

Dutriabayu@gmail.com


Www.bfinstitute.wordpress.com

Www.bfinstitute.blogspot.com



Gurunya Manusia

Gurunya Manusia

wpid november 13 2014 123706 pm wit1


GURUNYA MANUSIA : Menjadikan pelajaran mudah dimengerti


Kebanyakan para siswa sepakat bahwa pelajaran matematika adalah salah satu pelajaran yang paling tidak disukai di kalangan para siswa atau murid lantaran pelajaran ini susah dimengerti. Berdasar kajian yang pernah dilakukan, menempatkan matematika di posisi teratas pelajaran yang tidak disukai para anak anak sekolah, disusul oleh bahasa inggris. Benarkah demikian?


Berkaitan dengan belajar dan mengajar, kita berbicara tentang pola komunikasi yang 2 arah, dimana sang guru yang mengajar atau memberikan ilmu, sedangkan di sisi lain sang murid menerimanya. Dan akan terjadi sebuah proses yang dinamakan “belajar” disaat apa yang diberikan guru telah dan sudah dapat diterima oleh siswa melalui proses berpikir di otaknya, lain halnya jika apa yang diberikan guru “hanya” didengar, hanya dilihat dan atau hanya dirasakan saja tanpa ada proses yang melibatkan memory jangka panjang, tentu proses ini tidak membuahkan ilmu baru bagi sang murid. Mengapa bisa terjadi seperti ini?  Berikut beberapa penjelasannya.


1. Murid Tidak Merasa Nyaman


Dimungkinkan dalam proses pembelajarannya siswa belum atau tidak merasa nyaman. Pada kondisi ini, otak siswa bagian belakang bawah, yang biasa dikenal dengan otak reptile sedang aktif sehingga otak hanya berfokus pada “bagaimana cara agar nyaman? “. Dan pada kondisi ini tentunya bagian otak berpikir yang biasa disebut neurocortec tidak dapat berfungai baik, dan mengakibatkan setiap informasi yang masuk, hanya sepintas lalu saja, karena otak berfokus pada bagaimana menjadi nyaman. Solusinya : pastikan sebelum proses belajar mengajar dimulai, para siswa atau murid merasa nyaman dan senang, jaga rasa nyaman dan senang tersebut hingga proses belajar selesai. Caranya : penggunaan latarbelakang musik yang nyaman, seperti musik instrumental, music klasik dsb. Penerapan sesi ice breaking sebelum pelajaran dimulai, seperti game game ringan, tebaktebakan, brain gym, teka teki berhadiah, dsb.


2. Gaya Mengajar Guru Tidak Sama Dengan Gaya Belajar Murid.


Dimungkinkan kesulitas belajar terjadi dikarenakan gaya mengajar guru tidak sama dengan gaya belajar murid. Hal ini dapat terjadi jika sang guru belum memahami gaya belajar muridnya yang berbeda beda, sang guru hanya mengajar sesuai dengan cara belajarnya sendiri untuk dipakai mengajarkan pelajaran kepada para muridnya. Seperti contoh, guru yang suka membaca, akan mengajar siswa dengan kegiatan berbasis membaca, karena baginya jika siswa pandai membaca pasti pintar dan yang malas membaca pasti tidak pintar. Contoh lain : saat sang guru suka belajar dengan latihan soal soal, cenderung akan mengajar muridnya dengan soal soal yang harus dikerjakan dalam jumlah banyak, dan dinilai, yang sering kali menjawab benar berarti pintar dan yang sering salah berarti tidak pintar.

Kedua contoh mengajar di atas menunjukkan bahwa sang guru memaksakan gaya belajarnya untuk diterapkan sebagai gaya belajar muridnya. Padahal seperti kita ketahui bahwa masing masing individu mempunyai gaya belajar yang berbeda beda, beberapa menyukai membaca teks saat belajar, beberapa menyukai soal dan studi kasus, beberapa lagi menyukai praktek langsung, ada juga yang belajarnya lebih suka melalui cerita atau dongeng, ada juga yang melalui alunan musik dan lagu, dan adapula yang dengan gambar, dan masih banyak lagi. Hal ini sesuai dengan pola kecerdasan dominan masing masing murid sebagai individu. Merujuk pernyataan Howard Gardner, pakar kecerdasan jamak, bahwa setiap anak terlahir cerdas dan akan menjadi cerdas sebagaimana lingkungannya membesarkannya. Sehingga masing masing anak mempunyai kecerdasannya sendiri sendiri. Ada yang cerdas membaca, ada yang cerdas berhitung, ada yang cerdas menyanyi, ada yang cerdas mengambar dsb. Solusinya : guru


Harus menjadi pembelajar, mengerti gaya belajar masing masing siswanya, dan mengajarnya disesuaikan dengan gaya belajar tersebut


Kedua contoh diatas membawa kita pada proses pembelajaran yang sering dikenal dengan “Labeling”, dimana para murid dengan mudah diberi label pintar dan bodoh / tidak pintar. Saat murid pandai baca, Pintar, yang tidak pandai baca, bodoh. Jika anak sering benar menjawab soal matematika, pintar, jika sering salah, bodoh. Dan masih banyak lagi labeling labeling lain yang seharusnya tidak terjadi di proses pembelajaran ini.


Everychild is spesial, everychild is genius.


Ditulis oleh


dutria bayu adi

Dutriabayu@gmail.com


Www.bfinstitute.wordpress.com

Www.bfinstitute.blogspot.com



Gurunya Manusia

Gurunya Manusia

wpid november 13 2014 123706 pm wit


GURUNYA MANUSIA : Menjadikan pelajaran mudah dimengerti


Kebanyakan para siswa sepakat bahwa pelajaran matematika adalah salah satu pelajaran yang paling tidak disukai di kalangan para siswa atau murid lantaran pelajaran ini susah dimengerti. Berdasar kajian yang pernah dilakukan, menempatkan matematika di posisi teratas pelajaran yang tidak disukai para anak anak sekolah, disusul oleh bahasa inggris. Benarkah demikian?


Berkaitan dengan belajar dan mengajar, kita berbicara tentang pola komunikasi yang 2 arah, dimana sang guru yang mengajar atau memberikan ilmu, sedangkan di sisi lain sang murid menerimanya. Dan akan terjadi sebuah proses yang dinamakan “belajar” disaat apa yang diberikan guru telah dan sudah dapat diterima oleh siswa melalui proses berpikir di otaknya, lain halnya jika apa yang diberikan guru “hanya” didengar, hanya dilihat dan atau hanya dirasakan saja tanpa ada proses yang melibatkan memory jangka panjang, tentu proses ini tidak membuahkan ilmu baru bagi sang murid. Mengapa bisa terjadi seperti ini?  Berikut beberapa penjelasannya.


1. Murid Tidak Merasa Nyaman


Dimungkinkan dalam proses pembelajarannya siswa belum atau tidak merasa nyaman. Pada kondisi ini, otak siswa bagian belakang bawah, yang biasa dikenal dengan otak reptile sedang aktif sehingga otak hanya berfokus pada “bagaimana cara agar nyaman? “. Dan pada kondisi ini tentunya bagian otak berpikir yang biasa disebut neurocortec tidak dapat berfungai baik, dan mengakibatkan setiap informasi yang masuk, hanya sepintas lalu saja, karena otak berfokus pada bagaimana menjadi nyaman. Solusinya : pastikan sebelum proses belajar mengajar dimulai, para siswa atau murid merasa nyaman dan senang, jaga rasa nyaman dan senang tersebut hingga proses belajar selesai. Caranya : penggunaan latarbelakang musik yang nyaman, seperti musik instrumental, music klasik dsb. Penerapan sesi ice breaking sebelum pelajaran dimulai, seperti game game ringan, tebaktebakan, brain gym, teka teki berhadiah, dsb.


2. Gaya Mengajar Guru Tidak Sama Dengan Gaya Belajar Murid.


Dimungkinkan kesulitas belajar terjadi dikarenakan gaya mengajar guru tidak sama dengan gaya belajar murid. Hal ini dapat terjadi jika sang guru belum memahami gaya belajar muridnya yang berbeda beda, sang guru hanya mengajar sesuai dengan cara belajarnya sendiri untuk dipakai mengajarkan pelajaran kepada para muridnya. Seperti contoh, guru yang suka membaca, akan mengajar siswa dengan kegiatan berbasis membaca, karena baginya jika siswa pandai membaca pasti pintar dan yang malas membaca pasti tidak pintar. Contoh lain : saat sang guru suka belajar dengan latihan soal soal, cenderung akan mengajar muridnya dengan soal soal yang harus dikerjakan dalam jumlah banyak, dan dinilai, yang sering kali menjawab benar berarti pintar dan yang sering salah berarti tidak pintar.

Kedua contoh mengajar di atas menunjukkan bahwa sang guru memaksakan gaya belajarnya untuk diterapkan sebagai gaya belajar muridnya. Padahal seperti kita ketahui bahwa masing masing individu mempunyai gaya belajar yang berbeda beda, beberapa menyukai membaca teks saat belajar, beberapa menyukai soal dan studi kasus, beberapa lagi menyukai praktek langsung, ada juga yang belajarnya lebih suka melalui cerita atau dongeng, ada juga yang melalui alunan musik dan lagu, dan adapula yang dengan gambar, dan masih banyak lagi. Hal ini sesuai dengan pola kecerdasan dominan masing masing murid sebagai individu. Merujuk pernyataan Howard Gardner, pakar kecerdasan jamak, bahwa setiap anak terlahir cerdas dan akan menjadi cerdas sebagaimana lingkungannya membesarkannya. Sehingga masing masing anak mempunyai kecerdasannya sendiri sendiri. Ada yang cerdas membaca, ada yang cerdas berhitung, ada yang cerdas menyanyi, ada yang cerdas mengambar dsb. Solusinya : guru


Harus menjadi pembelajar, mengerti gaya belajar masing masing siswanya, dan mengajarnya disesuaikan dengan gaya belajar tersebut


Kedua contoh diatas membawa kita pada proses pembelajaran yang sering dikenal dengan “Labeling”, dimana para murid dengan mudah diberi label pintar dan bodoh / tidak pintar. Saat murid pandai baca, Pintar, yang tidak pandai baca, bodoh. Jika anak sering benar menjawab soal matematika, pintar, jika sering salah, bodoh. Dan masih banyak lagi labeling labeling lain yang seharusnya tidak terjadi di proses pembelajaran ini.


Everychild is spesial, everychild is genius.


Ditulis oleh


dutria bayu adi

Dutriabayu@gmail.com


Www.bfinstitute.wordpress.com

Www.bfinstitute.blogspot.com



Gurunya Manusia